Batam

Nihil Kejadian Menonjol Selama Lebaran di Kepri

Juliadi | Kamis 26 Mar 2026 23:23 WIB | 683

Polres/Ta dan Polsek
Polda Kepri


Kapolda Kepri, Irjen Pol Asep Syafrudin, Kamis (26/3/2026). Foto : Humas Polda Kepri


Matakepri.co.id, Batam -- Genderang Operasi Ketupat Seligi 2026 resmi ditabuh terakhir kalinya pada Rabu (25/3/2026). Selama 13 hari penuh, terhitung sejak 13 Maret, seluruh mata tertuju pada simpul-simpul transportasi di Kepulauan Riau. Hasilnya, sebuah capaian impresif berhasil ditorehkan oleh jajaran Polda Kepri bersama seluruh stakeholder terkait.


Kesuksesan pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1447 H kali ini bukan sekadar klaim sepihak. Data operasional menunjukkan grafik performa yang menanjak. 


Kapolda Kepri, Irjen Pol Asep Safrudin, mengungkapkan bahwa Satgas Operasi Ketupat berhasil mengeksekusi 7.203 kegiatan, sebuah peningkatan sebesar 5,25% dibandingkan tahun 2025.


Efektivitas kinerja ini tercermin dari jumlah laporan yang masuk, yakni sebanyak 7.114 laporan. Angka ini melampaui target yang ditetapkan sebanyak 3,5%.


"Ini adalah manifestasi dari kehadiran negara di tengah kegembiraan masyarakat. Sinergi 1.450 personel gabungan di seluruh kabupaten/kota memastikan tidak ada kejadian menonjol, baik di titik keramaian maupun jalur mobilitas utama," ungkap Asep, Kamis (26/3/2026).



Salah satu kunci keberhasilan tahun ini adalah optimalisasi Subsatgas yang berhasil menjangkau 18.018 anggota masyarakat. Alih-alih hanya melakukan penjagaan statis, personel di lapangan mengedepankan langkah preventif dan dialogis. Hal ini dibuktikan dengan partisipasi masyarakat dalam memberikan testimoni positif terhadap pelayanan kepolisian selama arus mudik dan balik.


Ia menyoroti adanya gangguan Kamtibmas di luar area target operasi yang dipicu oleh fluktuasi kesadaran masyarakat di wilayah tertentu. Hal ini menjadi bahan evaluasi untuk pengamanan di masa mendatang.


Sementara itu, Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Dr Nona Pricillia Ohei, memberikan peringatan keras mengenai potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).


"Kami memasuki musim kemarau. Kami mengimbau dengan sangat agar tidak ada warga yang membuka lahan dengan cara membakar. Selain sanksi hukum yang berat, dampaknya sangat merugikan kesehatan dan lingkungan kita semua," tegas Nona. (Adi)


Redaktur : ZB



Share on Social Media