News, Politik
| Sabtu 03 Feb 2018 10:37 WIB | 1799
MATAKEPRI.COM, Washington
DC - Memo rahasia Kongres Amerika Serikat (AS) yang kontroversial akhirnya
dirilis ke publik oleh Presiden AS Donald Trump. Hal ini berpotensi memperburuk
ketegangan Gedung Putih dan Biro Investigasi Federal (FBI) yang sedang
menyelidiki dugaan kolusi tim kampanye Trump dengan Rusia.
Trump mengabaikan peringatan keras
dari Direktur FBI Christopher Wray dan Departemen Kehakiman AS yang menyebut
perilisan memo rahasia itu berpotensi membahayakan informasi rahasia negara,
yang tak seharusnya diketahui publik.
Memo
rahasia itu resmi dirilis ke publik oleh Trump tanpa penyensoran. Isinya
disebut sebagai informasi sangat rahasia dan sensitif. Memo rahasia setebal
empat halaman itu disusun para anggota Kongres dari Partai Republik yang
tergabung dalam Komisi Intelijen DPR atau House of Representatives (HOR) AS.
Devin Nunes yang merupakan anggota parlemen Republikan bertanggung jawab penuh
atas memo rahasia itu.
Isi
memo rahasia itu secara garis besar mengungkapkan penyalahgunaan wewenang dan
sikap tidak netral dari FBI yang merupakan lembaga penegak hukum top di AS.
Dalam memo disebutkan bahwa Departemen Kehakiman AS dan FBI telah
menyalahgunakan program pengintaian yang dikenal sebagai Foreign Intelligence
Surveillance Act selama kampanye pilpres 2016.
Penyalahgunaan wewenang yang dimaksud adalah saat FBI melakukan pengintaian terhadap seorang anggota tim kampanye Trump yang bernama Carter Page. Page menjadi fokus perhatian FBI sejak tahun 2013, saat dia bertemu dengan sejumlah warga Rusia yang bekerja untuk Dinas Intelijen Asing Rusia di New York.
Menurut
memo itu, FBI memperoleh surat perintah pengadilan untuk memata-matai Page berdasarkan
tuduhan yang tidak terbukti terhadap Trump yang dikenal sebagai 'berkas Rusia'.
Berkas yang dimaksud merupakan berkas yang disusun mantan agen intelijen
Inggris, Christopher Steele, dengan dana yang dibiayai sebagian dari dana
kampanye Hillary Clinton, rival Trump saat pilpres lalu.
Hal
ini dianggap mengungkapkan keterlibatan Partai Demokrat dalam pengintaian yang
dilakukan FBI terhadap Page. Memo itu juga mengungkapkan nama-nama pejabat
senior FBI dan Departemen Kehakiman AS, termasuk Wakil Jaksa Agung Rod
Rosenstein, yang menyetujui pengintaian itu.
Kalangan
Partai Demokrat dan beberapa politikus Republik terang-terangan menentang
perilisan memo rahasia itu. Kubu Demokrat khawatir memo itu dijadikan upaya
mendiskreditkan penyelidikan FBI soal dugaan kolusi tim kampanye Trump dengan
Rusia.
Dalam
voting pada Senin (29/1) pekan ini, Komisi Intelijen pada HOR menyetujui untuk
merilis memo rahasia itu ke publik. Trump memiliki waktu sampai akhir pekan ini
untuk memutuskan apakah akan merilisnya ke publik dan akhirnya dia melakukannya
pada Jumat (2/2) waktu setempat.
"Dokumen ini memunculkan kekhawatiran serius soal integritas pengambilan keputusan pada level tertinggi di Departemen Kehakiman dan FBI," sebut Sekretaris Pers Gedung Putih, Sarah Sanders, dalam komentarnya.(***)