International, News, Hukum & Kriminal
| Kamis 11 Jul 2019 12:38 WIB | 2884
Perlakuan China terhadap warga minoritas muslim Uighur (istimewa)
MATAKEPRI.COM, Jenewa - Lebih dari 20 negara anggota
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) secara kompak mengecam perlakuan China
terhadap warga minoritas muslim Uighur dan kelompok minoritas lainnya di
wilayah Xinjiang. Kecaman itu dituangkan dalam surat yang dikirimkan
kepada para pejabat tinggi Dewan HAM PBB baru-baru ini.
Seperti
dilansir AFP, Kamis (11/7/2019), surat yang dirilis ke media pada Rabu
(10/7) waktu setempat itu, ditandatangani oleh para Duta Besar (Dubes)
untuk PBB dari 22 negara, termasuk Australia, Inggris, Kanada, Prancis,
Jerman dan Jerman.
Surat itu dikirimkan kepada Presiden Dewan HAM PBB, Coly Seck dan Komisioner Tinggi HAM PBB, Michelle Bachelet.
China
dilaporkan menahan 1 juta orang yang kebanyakan etnis Uighur di
kamp-kamp pengasingan di Xinjiang. Kelompok-kelompok HAM dan mantan
tahanan di Xinjiang menyebut kamp itu sebagai 'kamp konsentrasi' di mana
kebanyakan warga Uighur dan warga minoritas lainnya dipaksa
berasimilasi atau menyesuaikan diri dengan etnis mayoritas Han di China.
Surat
yang dikirimkan kepada Dubes PBB dari berbagai negara itu menyatakan
kekhawatiran terhadap tindakan otoritas China terhadap warga minoritas
di Xinjiang.
"Kekhawatiran tentang laporan-laporan kredibel soal
penahanan sewenang-wenang... juga meluasnya pengawasan dan pembatasan,
khususnya yang menargetkan warga Uighur dan minoritas lainnya di
Xinjiang," demikian kutipan surat tersebut.
Dalam suratnya,
puluhan Dubes PBB dari berbagai negara tersebut menyerukan otoritas
China untuk menghentikan penahanan sewenang-wenang.
China juga
didorong untuk mengizinkan 'kebebasan pergerakan bagi warga Uighur dan
warga muslim lainnya dan kelompok minoritas di Xinjiang'.
Para
Dubes yang menandatangani surat ini, termasuk para Dubes dari
negara-negara Uni Eropa dan Swiss, meminta agar surat ini ditetapkan
sebagai dokumen resmi pada Dewan HAM PBB, yang akan mengakhiri sesi
rapat ke 41 di Jenewa, Swiss pada Jumat (12/7) besok.
Diketahui
bahwa para diplomat PBB tergolong jarang mengirimkan surat terbuka
kepada Dewan HAM PBB untuk mengkritik penegakan HAM salah satu negara.
Langkah yang kini diambil para diplomat PBB ini, mungkin menjadi
satu-satunya opsi yang tersedia untuk bisa mengarahkan sorotan ke
Xinjiang. Terutama diketahui bahwa China memiliki cukup dukungan untuk
menolak sebuah resolusi resmi.
Dalam pernyataan sebelumnya,
otoritas China menyebut kamp-kamp di Xinjiang sebagai 'pusat pendidikan
kejuruan' yang diikuti secara sukarela dengan kebanyakan warga Uighur
mendapatkan pelatihan kerja. Otoritas China menegaskan bahwa pusat
pendidikan itu diperlukan untuk menjauhkan warga setempat dari
ekstremisme keagamaan, terorisme dan separatisme.
(***/detiknews)