International, News

Pelecehan Seksual Makin Brutal, Nairobi Buka Kelab Malam Khusus Perempuan

Moria | Selasa 13 Aug 2019 15:18 WIB | 66



Kelab Malam Khusus Perempuan Dibuka di Kenya (istimewa)


MATAKEPRI.COM, Nairobi - Kelompok yang mengorganisir kelab malam khusus untuk perempuan di Nairobi, Kenya mengatakan acara ini khusus dibuat agar kehidupan malam untuk perempuan, berjalan aman.

Kelab malam itu diselenggarakan ditempat terbuka di luar satu perumahan, yang memang disewa khusus menjadi lantai dansa.

Musik dimainkan dengan suara keras dan para perempuan berjoget.

"Di kelab yang dihadiri pria, kami perlu jaga diri. Di tempat ini, semua perempuan langsung merasa aman," kata Jane, 26 tahun, yang datang ke pesta dengan sahabatnya, Shani.

Keamanan ketat dan beberapa pria yang diizinkan masuk, hanyalah yang datang untuk mengantar teman perempuannya.

Setelah itu, mereka harus segera pergi.

Dan kebijakan khusus perempuan itu bukan hanya berlaku bagi pengunjung pesta saja, tetapi juga untuk para penjaga bar, keamanan, DJ, pembawa acara. Semuanya perempuan.

Tempat semacam ini menjadi populer karena banyak yang mengeluh mengalami pelecehan bila berkunjung ke kelab malam yang juga dihadiri pria.


'Tahun sulit bagi perempuan Kenya'

"Ketika saya mengetahui ada tempat aman untuk perempuan saya segera mendaftar," kata Shani.

Shani dan Jane suka mengunjungi kelab malam jenis ini dan mengetahui ada tempat seperti itu melalui Twitter.

Acara yang disebut Malam Khusus Sutra itu diciptakan Njoki Ngumi, Njeri Gatungo dan Akati Khasiani, yang semua anggotanya adalah kelompok seni Kenya yang bekerja di dunia film, musik, fesyen dan bentuk seni lainnya.

Mereka memulai kelab malam perempuan ini pada tahun 2018 tetapi ide di baliknya sebenarnya bukan hanya untuk bersenang-senang di malam hari.

"Tahun 2018 adalah tahun yang sulit bagi banyak perempuan Kenya. Ada banyak cerita kekerasan dan orang semakin berani bertindak diskriminatif di internet maupun di luar dunia online," kata Ngumi.

"Banyak terjadi pelecehan seksual. Kami hanya ingin menggunakan momentum ini dengan membuat sebuah acara di tempat di mana perempuan biasanya tidak diterima," tambahnya.

Kenya menjadi sorotan akhir-akhir ini karena munculnya sejumlah kasus perkosaan dan meningkatnya pembunuhan perempuan.

Pada tahun 2018, LSM internasional Plan International mengeluarkan daftar risiko pelecehan seksual di dunia. Nairobi berada pada urutan ke enam di antara 22 kota dunia dengan risiko kemungkinan besar perempuan menghadapi pelecehan seksual.

Jakarta berada pada urutan ke 10, dengan angka risiko 80% menghadapi pelecehan seksual di ruang publik.

Para pakar yang diwawancara mengatakan perempuan Kenya 50% kemungkinan menghadapi pelecehan seksual di tempat umum.

Pada Mei 2019, Federation of Women Lawyers Kenya (Fida Kenya), menyatakan mereka telah mencatat ebih dari 50 kasus pembunuhan perempuan oleh pria karena alasan gender dalam lima bulan pertama tahun ini.


"Bisa melepas jilbab"

Dua perempuan yang datang ke acara khusus ini adalah Munira, 22 tahun dan Khadija, 25 tahun. Dua sahabat ini mengatakan, acara seperti ini cocok bagi semua agama, termasuk Muslim.

"Sebagian dari kami harus membuka hijab agar berbaur saat berdansa. Jika mereka melihat kami pakai hijab, mereka biasanya terkejut."

"Tempat seperti ini juga lebih baik karena kami dilarang bebas berbaur dengan pria," kata Khadija.

"Sebelumnya ini sulit dilakukan karena tidak adanya kelab khusus perempuan," tambah Munira.

Namun ada pihak yang mencurigai, acara ini merupakan kedok bagi pesta lesbian.

Salah seorang pendiri acara, Njoki Ngumi mengatakan mereka menerima semua orang termasuk lesbian.

"Memang ada sejumlah acara untuk lesbian tetapi acara kami bukan pesta seperti itu. Kami menerima semua orang."

Acara seperti ini disambut oleh kelompok LGBT yang mengalami intimidasi dan bahkan kekerasan di ruang publik di Kenya.

Seks sejenis merupakan pelanggaran hukum di Kenya dan pelakunya dapat diganjar maksimal 14 tahun.

Pada bulan Mei 2019, Pengadilan Tinggi Kenya mengukuhkan hukum yang mengkriminalisasi seks sejenis setelah para pegiat menggugat.

"Tak banyak yang tahu bahwa komunitas lesbian di Nairobi cukup besar dan kami terkadang perlu tempat agar orang-orang yang sehaluan bisa bertemu" kata Ann Marie, 22 tahun yang biseksual.

Binti, 23 tahun, yang menyatakan diri lesbian, menambahkan pesta khusus perempuan tanpa dihakimi orang lain merupakan pengalaman yang paling berharga baginya tahun ini.

Ngumi berharap pesta dansa khusus perempuan tidak hanya menjadi acara tetap di Kenya, tetapi di seluruh Afrika.

"Ini adalah masalah dunia. Ada yang mengangkat sisi negatif kehidupan kelab malam terutama terkait dengan perempuan, jati diri gender dan orientasi seksual," katanya.

"Kami perlu tempat khusus bagi perempuan, secara khusus dan juga di ruang publik," tambahnya.

Sejumlah nama di tulisan ini diubah untuk melindungi jati diri mereka.

(***/detiknews)



Berita Terkait

Tidak ada berita terkait