Batam, Nasional , News
Riki | Sabtu 20 Dec 2025 18:42 WIB | 1777
Perwakilan Yayasan MMY saat memberikan bantuan pada korban banjir di Aceh.
Matakepri.co.id, Aceh Tamiang – Banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang meninggalkan luka mendalam bagi warganya. Banjir yang datang tiba-tiba tak hanya merendam rumah, tetapi juga memutus akses jalan dan mengisolasi sejumlah desa. Hingga kini, sebagian warga masih bertahan dalam kondisi serba terbatas, mulai dari tempat tidur hingga air bersih.
Melihat kondisi tersebut, Yayasan Mitra Mulia Yapindo (MMY) di bawah naungan PT Royal Mitra International turun langsung ke lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Tak sekadar mengirimkan logistik, yayasan memastikan bantuan diserahkan langsung ke tangan para korban, termasuk di wilayah-wilayah yang masih sulit dijangkau.
Rombongan Yayasan MMY yang mewakili pimpinan dan Direktur Utama, Bapak Dr. Andihar, SH, MH, berangkat dari Kota Batam menuju Aceh Tamiang pada Kamis (18/12/2025). Tim dipimpin oleh Lian Tasrin selaku Koordinator dan Penanggung Jawab kegiatan, dengan perjalanan panjang melalui Kota Medan sebelum akhirnya tiba di lokasi terdampak.
Dalam penyaluran bantuan tersebut, rombongan Yayasan MMY juga berkoordinasi dan bekerja sama dengan tim Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Kolaborasi ini dilakukan untuk mempermudah akses ke lokasi terdampak, memastikan pendistribusian bantuan berjalan tepat sasaran, serta mendokumentasikan kondisi riil para korban di lapangan.
Setibanya di Aceh Tamiang, tim mendatangi enam titik lokasi yang terdampak banjir dan longsor. Beberapa desa yang dikunjungi di antaranya Sungai Liput, Kota Lintang Bawah, Kampung Landok, hingga Sungai Iyu. Untuk mencapai sejumlah titik tersebut, tim bahkan harus berjalan kaki menyusuri jalan berlumpur dan becek, karena kendaraan sulit untuk melintas.
Kondisi di Desa Kota Lintang Bawah menjadi salah satu potret pilu dampak bencana. Warga terlihat masih tinggal di lingkungan yang dipenuhi lumpur, dengan perlengkapan rumah tangga yang sangat terbatas. Sebagian korban bahkan kesulitan mendapatkan alas tidur dan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Zubaidah, salah seorang warga terdampak, mengungkapkan sulitnya memperoleh air bersih pascabanjir.
“Air bersih sangat sulit didapat. Memang setiap hari ada truk air yang datang, tetapi kami tidak bisa mendapatkannya karena penyalurannya hanya ke tempat yang memiliki tandon air. Kami jangankan punya tandon, ember saja sekarang sudah tidak ada,” tuturnya.
Lian Tasrin mengatakan, kehadiran Yayasan MMY di Aceh Tamiang merupakan amanah langsung dari pimpinan yayasan.
“Kami datang mewakili Yayasan Mitra Mulia Yapindo dan pimpinan kami, Bapak Dr. Andihar, SH, MH. Tujuan utama kami adalah memastikan bantuan ini benar-benar sampai langsung kepada para korban, terutama di wilayah yang masih terisolir,” ujarnya.
Menurut Lian, bantuan yang disalurkan disesuaikan dengan kebutuhan mendesak warga terdampak.
“Bantuan yang kami bawa berupa kasur, selimut, obat-obatan, pakaian baru, beras, telur, susu bayi, serta kebutuhan lain yang saat ini sangat dibutuhkan oleh para korban,” jelasnya.
Mujib, seorang warga Aceh Tamiang lainnya, , mengaku sangat terharu atas bantuan yang dibawa oleh Yayasan MMY. Ia berharap semoga dapat memanfaatkan bantuan sebaik mungkin. Dilokasi tempat tinggalnya ada sekitar 25 unit rumah yang rata dengan tanah disapu banjir.
"Terimakasih atas kepedulian Yayasan (Mitra Mulia Yapindo - red) kepada masyarakat Aceh Tamiang khususnya. Semoga niat baik dan tujuan serta kepedulian akan menjadi berkah dan dibalas oleh sang maha kuasa," tegasnya.
Melalui aksi kemanusiaan ini, Yayasan Mitra Mulia Yapindo berharap dapat sedikit meringankan beban para korban banjir dan longsor di Aceh Tamiang, sekaligus menghadirkan harapan di tengah kondisi sulit yang mereka hadapi.
“Kami berharap masyarakat tetap kuat dan tidak merasa sendiri. Semoga bantuan ini bisa membantu kebutuhan dasar warga dan proses pemulihan dapat segera berjalan,” pungkas Lian Tasrin. (Riki)
Redaktur: ZB