Pojok Opini & Puisi, News, Kepri
Egi | Sabtu 03 Oct 2026 20:15 WIB | 58
Ketua IJTI Kepri Gusti Yennosa serahkan penghargaan kepada Kapolda Kepri Irjen Pol Asep Safrudin (foto: IJTI Kepri)
Matakepri.co.id Batam - Promosi jabatan dengan pangkat bintang tiga yang kini melekat pada Irjen Pol Asep Safrudin bukanlah sebuah pencapaian yang hadir secara tiba-tiba.
Bagi kami, para jurnalis di Kepulauan Riau, perjalanan itu merupakan rangkaian panjang dari pengabdian, ketegasan, dan cara beliau menempatkan institusi di atas kepentingan pribadi.
Saya, Gusti Yennosa, Ketua IJTI Korwil Sumatera sekaligus Ketua IJTI Pengda Kepri, melihat sosok Asep Safrudin sebagai figur yang memiliki pengalaman dan karakter untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar di tubuh Polri, termasuk ketika dipercaya memimpin Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.
Di mata rekan-rekan jurnalis, Asep Safrudin dikenal sebagai sosok yang tegas, tetapi tetap memiliki sisi humanis.
Ketegasan baginya bukan semata-mata soal bagaimana mengambil tindakan, melainkan bagaimana menjaga keadaan tetap terkendali. Ia memahami bahwa sebuah persoalan tidak selalu harus diselesaikan dengan suara keras.
Ada kalanya sebuah masalah justru membutuhkan ketenangan, ruang untuk berdiskusi, serta keputusan yang cepat dan tepat.
Selama bertugas di Kepri, kami sebagai jurnalis beberapa kali mendapat kesempatan berdiskusi dengan beliau. Bukan hanya mengenai penanganan perkara, tetapi juga tentang perkembangan situasi di daerah ini.
Pembicaraan-pembicaraan itu terkadang sederhana. Namun, di baliknya terlihat satu hal yang penting: bagaimana seorang aparat kepolisian memikirkan potensi persoalan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Sejumlah situasi yang berpotensi memicu bentrokan dapat diredam. Dalam kondisi tertentu, beliau juga mampu mencari jalan keluar dengan cepat agar persoalan dapat diselesaikan tanpa harus menambah korban atau memperlebar masalah.
Bagi saya, ada satu peristiwa kecil yang justru cukup menggambarkan karakter Asep Safrudin.
Saat itu, saya bersama rekan-rekan IJTI Kepri terlibat dalam rangkaian kegiatan HUT Bhayangkara. Kami menjadi bagian dari panitia dan menyiapkan sejumlah kegiatan, salah satunya lomba menulis surat.
Konsep awal yang kami susun adalah lomba "Surat untuk Kapolda". Selain itu, ada pula gagasan lomba vlog bersama polisi serta lomba menulis bertema "Polisi untuk Masyarakat".
Seluruh persiapan kemudian kami paparkan di hadapan Irjen Pol Asep Safrudin yang ketika itu menjabat Kapolda Kepri.
Satu per satu penanggung jawab menyampaikan gagasan dan konsep kegiatan. Sampailah pada pembahasan lomba menulis surat untuk Kapolda.
Setelah mendengarkan seluruh pemaparan, beliau membuka proposal yang berada di hadapannya. Wajahnya tampak serius, seolah sedang mencermati satu per satu konsep yang kami sampaikan.
Kemudian beliau menyampaikan sebuah usulan sederhana.
"Cak, coba lu tukar lomba menulis surat untuk Kapolda jadi menulis surat untuk polisi. Maknanya kan beda. Masak untuk gue doang," ujarnya santai.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun, bagi saya, ada makna yang cukup dalam di baliknya.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa polisi bukan hanya tentang seorang Kapolda. Polisi adalah sebuah institusi yang memiliki banyak wajah, banyak personel, sekaligus memiliki hubungan yang luas dengan masyarakat.
"Karena kalau polisi maknanya luas, mereka bisa mengkritisi gue, termasuk anggota-anggota polisi lainnya," katanya.
Saya terdiam sejenak mendengar penjelasan itu.
Hanya perubahan beberapa kata dalam sebuah tema lomba. Tetapi, dari sana terlihat bagaimana beliau memandang institusi.
Ia tidak ingin masyarakat hanya berbicara tentang seorang Kapolda. Ia membuka ruang agar masyarakat dapat menyampaikan pandangan, kritik, bahkan penilaian terhadap polisi secara lebih luas.
Bagi saya, itulah salah satu bentuk sederhana dari jiwa Bhayangkara yang terpatri dalam dirinya.
Institusi lebih besar daripada jabatan.
Nama pribadi akan berlalu, sementara institusi harus tetap berdiri dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Dalam perjalanan berikutnya, saya juga beberapa kali melihat langsung bagaimana Asep Safrudin terlibat dalam penanganan perkara-perkara yang menjadi perhatian di Kepri.
Ia tidak sekadar menerima laporan dari bawah meja kerjanya.
Dalam sejumlah perkara besar, para direktur hingga penyidik dipanggil masuk ke ruangannya untuk berdiskusi dan melakukan gelar perkara. Setiap persoalan dibicarakan secara rinci, dicari titik terang dan jalan keluarnya.
Penanganan perkara seolah tidak ingin ia lepaskan begitu saja sebelum menemukan arah penyelesaian.
Ada ketenangan dalam cara itu bekerja. Bukan ketenangan yang berarti tanpa ketegasan, tetapi ketenangan seorang pemimpin yang memahami bahwa setiap keputusan memiliki dampak terhadap banyak orang.
Saya sendiri mengenal Asep Safrudin sudah cukup lama.
Jauh sebelum pangkat dan jabatan yang sekarang dipercayakan kepadanya, pada 2014 ia pernah menjadi bagian dari perjalanan kepolisian di Batam sebagai pimpinan Polresta Barelang.
Ia datang ke Batam dengan sikap yang sopan dan meninggalkan banyak kenangan ketika kemudian melanjutkan pengabdiannya di tempat lain.
Waktu terus berjalan, jabatan berganti, pangkat bertambah, tanggung jawab pun semakin besar.
Namun, bagi kami yang pernah berinteraksi dengannya, Asep Safrudin bukanlah sosok yang tiba-tiba muncul ketika mendapatkan jabatan baru.
Ia adalah bagian dari perjalanan panjang yang pernah kami saksikan dari dekat.
Bagi rekan-rekan jurnalis, sosok seperti Asep Safrudin memberikan rasa bahwa ketegasan dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan.
Bagi polisi di Kepri, ia meninggalkan sebuah teladan tentang bagaimana menjaga institusi melalui kerja, kedisiplinan, keterbukaan berdiskusi dan keberanian mengambil keputusan.
Dan bagi masyarakat Kepri, keamanan bukan sekadar angka statistik.
Keamanan adalah rasa tenang ketika menjalani kehidupan, bekerja, membangun usaha dan menatap masa depan.
Daerah yang aman akan membuat masyarakat merasa terlindungi. Dunia usaha pun membutuhkan rasa aman dan kepastian untuk tumbuh.
Di titik itulah, jejak seorang pemimpin kepolisian menjadi lebih luas daripada sekadar jabatan.
Mungkin karena itu pula, ketika kabar tentang promosi jabatan Asep Safrudin dengan pangkat bintang tiga datang, ada rasa bangga yang sulit disembunyikan.
Bukan hanya karena seorang putra yang pernah bertugas di Kepri mendapatkan kepercayaan lebih besar. Tetapi karena kami pernah melihat sendiri bagaimana ia bekerja.
Dari Kepri, ia pernah menjaga ketenangan.
Dari Kepri pula, ia meninggalkan kenangan.
Kini, ketika pengabdiannya membawanya ke tanggung jawab yang lebih luas, doa dan harapan kami sederhana: semoga pengalaman, ketegasan, dan sisi humanis yang pernah dirasakan masyarakat Kepri itu terus menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Sebab pada akhirnya, jabatan boleh berpindah.
Pangkat boleh bertambah.
Tetapi yang akan selalu diingat masyarakat adalah bagaimana seorang pemimpin hadir ketika mereka membutuhkan rasa aman.
Dan bagi kami di Kepri, Asep Safrudin adalah bagian dari cerita itu.
Gusti Yennosa
Ketua IJTI Korwil Sumatera dan Pengda IJTI Kepri (Egi)
Redaktur: ZB