Batam, News
Riki | Minggu 17 May 2026 06:16 WIB | 402
Pantai Teluk Mata Ikan tercemar lumpur. (Foto: Maman)
Matakepri.co.id, Batam - Dampak dari pembangunan proyek EGS AI Data Center di Kecamatan Nongsa, tepatnya di perkampungan Teluk Mata Ikan, memicu keresahan warga setelah lumpur hasil aktivitas konstruksi memenuhi pesisir pantai dan permukiman.
Pantai yang selama ini menjadi bagian kehidupan warga mendadak berubah menjadi area berair kecokelatan berlumpur, akibat limpasan tanah dari aktivitas cut and fill serta pemadatan tanah yang dilakukan oleh alat berat. Foto yang diperoleh redaksi menunjukkan garis pantai yang tertutup lumpur, dengan perahu nelayan teronggok di perairan keruh serta ayunan pantai yang kini berdiri di tengah bekas genangan tanah.
Warga Teluk Mata Ikan mengungkapkan kondisi itu bukan sekadar genangan hujan biasa, tetapi dampak serius dari kegiatan proyek berskala besar yang kini tengah berjalan.
“Ini bukan pertama kali lumpur masuk sampai rumah kami,” ujar Rijal, warga setempat, kepada Matakepri.co.id, Sabtu (16/05/26).
“Kali ini lumpur sampai ke pantai, membuat laut kami makin rusak. Setiap hari makin sakit, dan semua diam saja,” cetusnya dengan logat Melayu yang terekam dalam video unggahan warga.
Proyek yang dikerjakan oleh konsorsium Global China Construction Yangtze River dan PT Equator Gate System ini diperkirakan bernilai hingga Rp6 triliun. Namun, realisasi di lapangan kini disoal karena **diduga gagal menerapkan sistem pengendalian dampak lingkungan yang efektif.
Akumulasi aktivitas cut and fill tanpa sistem drainase dan penyangga memadai membuat tanah hasil pengerukan tidak tertahan, sehingga saat hujan turun, air tidak terserap dengan baik. Akibatnya, lumpur justru mengalir ke luar area proyek, hingga mencemari permukiman warga dan pesisir pantai.
Pantauan redaksi, terdapat indikasi aktivitas cutting tanah di luar area konsesi resmi proyek, untuk memenuhi kebutuhan material timbunan. Dugaan ini menimbulkan pertanyaan serius, yaitu, apakah kegiatan tersebut sudah memiliki izin yang lengkap? Dan apakah pengukuran lahan dan koordinasi dengan aparat desa (RT/RW) serta Lurah telah dilakukan dengan benar?
Selain kerusakan lingkungan, warga yang menggantungkan hidup dari laut juga merasakan dampaknya. Nelayan setempat mengeluhkan penurunan kualitas air laut yang kini tampak keruh, serta sulitnya mencari ikan di perairan yang tercemar lumpur.
“Kami takut musim tangkap ikan nanti terganggu,” ujar salah seorang nelayan yang tak ingin disebut namanya.
Hingga berita ini diturunkan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Batam belum memberikan pernyataan resmi mereka. Upaya konfirmasi dan permintaan tanggapan telah disampaikan melalui telepon dan pesan tertulis, namun respons masih ditunggu. (Red)
Redaktur: ZB