Anambas, Kepri
Egi | Senin 19 Oct 2026 22:52 WIB | 377
Tangkapan layar video warga geruduk kantor PLN Anambas (foto: ist)
Matakepri.co.id Anambas - Kesabaran warga Pulau Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, menghadapi pemadaman listrik yang berulang akhirnya memuncak. Ratusan warga mendatangi Kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Anambas di Tarempa, Minggu (18/10/2026) malam, untuk menuntut kepastian pelayanan listrik.
Aksi tersebut dipicu pemadaman yang disebut terjadi berulang kali di luar jadwal resmi. Kondisi ini dinilai mengganggu aktivitas masyarakat dan menimbulkan kerugian ekonomi, terutama bagi nelayan serta pelaku usaha perikanan.
Suasana aksi sempat memanas. Sebagai bentuk kekecewaan, seorang warga bahkan melemparkan ikan busuk ke tengah kerumunan massa.
Warga yang menginginkan penjelasan langsung dari pihak PLN akhirnya mendapat respons setelah aparat Polsek Siantan menjemput Manajer ULP PLN Anambas, M. Fachry Refi, dari kediamannya untuk menemui massa.
Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan berbagai keluhan terkait gangguan pasokan listrik yang dinilai tidak menentu dan belum memberikan kepastian bagi masyarakat.
Dampak pemadaman listrik tidak hanya dirasakan rumah tangga. Para nelayan dan pelaku usaha perikanan menjadi kelompok yang ikut terdampak karena bergantung pada ketersediaan es batu untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan.
Ketika listrik padam tanpa kepastian waktu, produksi dan penyimpanan es ikut terganggu. Akibatnya, es yang tersedia mencair dan ikan hasil tangkapan berisiko mengalami penurunan kualitas hingga membusuk.
Selain kerugian di sektor perikanan, warga juga mengkhawatirkan kerusakan peralatan elektronik akibat pemadaman yang terjadi berulang kali.
"Listrik padam terus-menerus tanpa jadwal yang jelas ini sangat merugikan kami. Peralatan elektronik warga terancam rusak, dan para nelayan rugi besar karena es mencair sehingga ikan-ikan tangkapan membusuk," ujar salah seorang perwakilan warga di tengah aksi.
Masyarakat mendesak PLN tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga mengambil langkah konkret agar gangguan kelistrikan tidak terus berulang.
Upaya meredakan ketegangan dilanjutkan melalui mediasi antara manajemen PLN dan perwakilan masyarakat. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan tertulis yang ditandatangani pada malam itu.
Dalam dokumen kesepakatan tersebut, gangguan pemadaman di luar jadwal disebut dipicu kerusakan pada mesin pembangkit.
Pihak PLN berkomitmen meminimalkan pemadaman di luar jadwal serta mengupayakan penambahan mesin untuk mengatasi defisit daya di wilayah Tarempa pada November 2026.
Manajer ULP PLN Anambas, M. Fachry Refi, bahkan menyatakan kesediaannya mengundurkan diri apabila komitmen mendatangkan mesin tambahan tersebut tidak terealisasi sesuai target.
"Apabila mesin tambahan untuk mengatasi defisit listrik di Tarempa tidak terealisasi pada November 2026 mendatang, saya bersedia mengundurkan diri dari jabatan Manajer ULP PLN Anambas," tegas Fachry sebagaimana tertuang dalam dokumen kesepakatan.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan antara PLN dan masyarakat yang menginginkan penyelesaian nyata atas persoalan pasokan listrik di Pulau Siantan.
Selain komitmen penambahan mesin, kesepakatan itu juga mengatur penyampaian informasi pemadaman listrik terjadwal kepada masyarakat.
PLN menyepakati bahwa informasi pemadaman berjadwal wajib diumumkan melalui pengeras suara masjid-masjid terdekat agar dapat diketahui warga secara luas dan lebih cepat.
Langkah tersebut diharapkan membantu masyarakat mempersiapkan diri, terutama warga yang menjalankan usaha dan memiliki aktivitas yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
Dokumen kesepakatan ditandatangani oleh M. Fachry Refi selaku Manajer ULP PLN Anambas dan Haironi selaku Koordinator Pembangkitan PLN Nusa Daya. Lima perwakilan masyarakat turut membubuhkan tanda tangan sebagai saksi.
Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, serta Camat Siantan, Syamsir, juga menandatangani dokumen tersebut sebagai pihak yang mengetahui kesepakatan.
Meski kesepakatan telah ditandatangani, warga masih menunggu langkah teknis yang lebih jelas terkait perbaikan mesin pembangkit yang rusak dan penambahan kapasitas pembangkit.
Realisasi penambahan mesin pada November 2026 kini menjadi hal yang dinantikan masyarakat. Warga berharap komitmen tersebut benar-benar diwujudkan sehingga pasokan listrik di Tarempa kembali lebih stabil dan kerugian akibat pemadaman berulang tidak terus berlanjut.(Egi)
Redaktur: ZB