Batam, News, Kepri
Egi | Minggu 05 Apr 2026 15:15 WIB | 609
Kepala Imigrasi Batam Hajar Aswad pantau langsung program Immicare di RS Awal Bros (foto: Humas Imigrasi)
Matakepri.co.id Batam – Layanan inovatif Immicare milik Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Program “jemput bola” ini bahkan disebut menjadi penyelamat bagi seorang balita pasien darurat yang membutuhkan penanganan medis segera di Malaysia.
Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Lina, keluarga pasien, usai menghadiri kegiatan halal bihalal Rumah Sakit KPJ Johor di Aston Batam. Ia menceritakan bagaimana layanan cepat Imigrasi Batam membantu proses keberangkatan anaknya untuk berobat ke negeri jiran.
“Terima kasih banyak kepada Imigrasi Batam yang sudah membantu pembuatan paspor dengan cepat. Layanan ini sangat memudahkan kami sehingga anak kami bisa segera mendapat pengobatan di Malaysia,” ujar Lina.
Menurutnya, Immicare menjadi terobosan terbaik karena mampu memangkas waktu pengurusan paspor yang biasanya memakan waktu lama, menjadi hanya hitungan jam dalam kondisi darurat.
Berkat layanan tersebut, kondisi kesehatan anaknya kini berangsur membaik setelah menjalani pengobatan di Malaysia.
Lina juga memberikan apresiasi kepada Kepala Kantor Imigrasi Batam, Hajar Aswad, atas inovasi yang dinilai sangat membantu masyarakat, khususnya bagi mereka yang membutuhkan penanganan cepat.
Ia berharap layanan seperti ini terus dipertahankan dan ditingkatkan ke depannya.
Diketahui, keluarga Lina mendapatkan layanan Immicare pada 4 Maret 2026 di Rumah Sakit Awal Bros Batam. Saat itu, petugas Imigrasi langsung mendatangi rumah sakit untuk melakukan proses wawancara, pengambilan data biometrik, hingga verifikasi berkas di lokasi.
Langkah ini dilakukan agar proses penerbitan paspor dapat segera diselesaikan tanpa mengganggu kondisi pasien yang membutuhkan penanganan medis segera.
Kepala Kantor Imigrasi Batam, Hajar Aswad, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menghadirkan pelayanan yang responsif, terutama dalam situasi darurat.
“Kami ingin memastikan bahwa aspek administratif tidak menjadi penghalang bagi upaya penyelamatan dan pengobatan pasien,” tegasnya, (Egi)
Redaktur: ZB