Batam, News, Kepri
Egi | Minggu 06 Sep 2026 21:00 WIB | 112
Direktur Operasi PT Bandara Internasional Batam Hang Nadim, Anton Marthalius(foto: ist)
Matakepri.co.id Batam - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan sebaran abu vulkanik berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah, termasuk Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Pengelola bandara bersama seluruh pemangku kepentingan penerbangan melakukan pemantauan intensif guna memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga.
Direktur Operasi PT Bandara Internasional Batam Hang Nadim, Anton Marthalius, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai stakeholder penerbangan, mulai dari maskapai, perusahaan ground handling, AirNav Indonesia hingga instansi terkait lainnya.
“Keselamatan penerbangan, penumpang, pesawat, dan seluruh personel bandara merupakan prioritas utama dalam setiap keputusan operasional,” ujar Anton, Minggu (6/9/2026).
Menurut Anton, penyesuaian operasional akan dilakukan apabila kondisi udara dinilai tidak aman akibat sebaran abu vulkanik. Langkah tersebut dapat berupa penundaan, pengalihan rute, hingga pembatalan penerbangan.
“Dasar kita melakukan penundaan atau pembatalan adalah safety. Semua keputusan dilakukan berdasarkan hasil asesmen dan ketentuan keselamatan penerbangan,” katanya.
Bandara Hang Nadim juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, BMKG, AirNav Indonesia, maskapai, serta stakeholder penerbangan lainnya untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik.
Pada Minggu (6/9/2026), Bandara Hang Nadim menjadwalkan sebanyak 70 penerbangan domestik dan internasional dengan total sekitar 8.802 penumpang. Namun, dampak erupsi menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami gangguan operasional.
Dari total penerbangan tersebut, sebanyak 21 penerbangan rute Batam–Jakarta dan Jakarta–Batam terdampak. Terdiri dari 10 penerbangan kedatangan dan 11 penerbangan keberangkatan yang terpaksa dibatalkan akibat kondisi di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.
Sementara itu, sebanyak 49 penerbangan lainnya masih beroperasi normal dengan melayani sekitar 6.283 penumpang. Rute yang tetap berjalan antara lain menuju Kuala Lumpur, Kualanamu, Pekanbaru, Pontianak, Padang, Palembang, Semarang, Surabaya, hingga Ranai.
Sejumlah maskapai turut merasakan dampak pembatalan penerbangan tersebut. Citilink tercatat memiliki delapan penerbangan terdampak dengan sekitar 880 penumpang. Garuda Indonesia mengalami enam penerbangan terdampak dengan sekitar 654 penumpang.
Selain itu, Super Air Jet mencatat empat penerbangan terdampak yang melibatkan sekitar 584 penumpang, sementara Batik Air mengalami tiga penerbangan terdampak dengan sekitar 401 penumpang.
Untuk mengantisipasi dampak terhadap penumpang, pihak bandara telah menyiapkan langkah-langkah pelayanan dan pemulihan (service recovery). Penumpang yang telah berada di ruang tunggu dan mengalami keterlambatan penerbangan diberikan layanan awal, termasuk penyediaan air mineral.
Anton menambahkan, pihaknya juga telah menggelar rapat operasional serta menyiapkan personel untuk menangani situasi keterlambatan maupun pembatalan penerbangan.
“Untuk penumpang, kami melakukan service recovery bagi yang sudah berada di ruang tunggu. Kami juga berkoordinasi dengan seluruh stakeholder, maskapai, ground handling maupun AirNav untuk melakukan mitigasi dan mencari alternatif lainnya,” jelasnya.
Petugas bandara turut disiagakan di area keberangkatan dan kedatangan untuk memberikan informasi terkini serta membantu kebutuhan penumpang yang terdampak.
Pihak Bandara Hang Nadim mengimbau calon penumpang agar selalu memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat menuju bandara.
“Jangan datang ke bandara sebelum mendapat kepastian mengenai situasi penerbangan. Jika sudah mendapatkan informasi bahwa penerbangan dibatalkan, tidak perlu datang ke bandara dan cukup memantau perkembangan melalui website maupun kanal resmi maskapai,” ujar Anton.
Ia menegaskan, seluruh keputusan penyesuaian operasional yang dilakukan saat ini semata-mata bertujuan untuk menjamin keselamatan penerbangan di tengah dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.(Egi)
Redaktur: ZB