Batam, News
Egi | Rabu 29 Jul 2026 12:01 WIB | 36
Disperindag Beberkan Alasan Harga Sembako di Batam Tak Bisa Dibuat Seragam. (Foto: CNN)
Matakepri.co.id, Batam - Harga kebutuhan pokok di berbagai pasar tradisional Kota Batam masih menunjukkan perbedaan meski menjual komoditas yang sama. Ayam, beras, cabai, hingga bawang dapat dibanderol dengan harga berbeda di setiap pasar, kondisi yang kerap menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam menegaskan perbedaan harga tersebut merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kualitas barang, asal pasokan, biaya distribusi, hingga biaya operasional pedagang.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan selisih harga hampir terjadi pada seluruh komoditas utama.
Di Pasar Fanindo, Batuaji, misalnya, ayam beku dijual antara Rp38 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp35 ribu per kilogram. Sementara ayam segar dipasarkan dengan harga Rp43 ribu hingga Rp46 ribu per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas beras. Beras merek Ayam Pelung kemasan 25 kilogram kini dijual sekitar Rp335 ribu per karung, meningkat dari sebelumnya sekitar Rp270 ribu. Sementara beras merek Horas ukuran yang sama dijual sekitar Rp320 ribu per karung atau sekitar Rp16 ribu per kilogram.
Berbeda dengan kondisi di Pasar Perumnas Sagulung. Di pasar tersebut, harga ayam beku justru turun menjadi Rp38 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp40 ribu. Daging beku turun menjadi Rp90 ribu per kilogram, sedangkan ayam segar dijual sekitar Rp40 ribu per kilogram.
Namun, sejumlah komoditas lain mengalami kenaikan, di antaranya beras merek Padang menjadi Rp15 ribu per kilogram, cabai hijau Rp62 ribu per kilogram, bawang merah Rp38 ribu per kilogram, dan bawang putih Rp36 ribu per kilogram.
Perbedaan harga bahan pokok turut dirasakan pelaku usaha kuliner yang bergantung pada kestabilan harga.
Rosita, pedagang ayam penyet di Batuaji, mengaku kenaikan harga beras meningkatkan biaya produksi usahanya. Meski demikian, ia belum berani menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.
"Harga beras naik, tapi kami tidak bisa menaikkan harga makanan. Kalau naik, konsumen bisa kabur, sementara kami tidak dapat untung," tutupnya. (Egi)
Redaktur: ZB